altSaat ini Anda tidak perlu lagi capek memikirkan apa yang diinginkan si bayi. Sebuah inovasi baru telah diluncurkan untuk memudahkan Anda mengetahui apakah tangisan si bayi pertanda ia lapar, lelah, bosan, mengantuk, stres, atau merasa tidak nyaman. Inovasi tersebut adalah "Cry Translator" yang dipatenkan oleh Biloop Technologie, SL. Cara kerja alat ini setelah si bayi menangis selama sepuluh detik, dan alat ini akan menyala dari salah satu dari lima ikon yang akan menunjukkan maksud dari sang bayi, seperti diwartakan LiveScience baru-baru ini. Dulu, para ilmuwan telah menemukan lapangan dan frekuensi tangisan bayi dapat menunjukkan masalah kesehatan dan bahkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Dan sementara bayi yang baru lahir mungkin tidak memiliki bahasa untuk beberapa waktu, namun dokter anak sudah tahu mereka menangis untuk berkomunikasi. "Bayi menangis, itu bentuk utama mereka berkomunikasi," kata dokter anak, Jamie A. Freishtat. Seiring berjalannya waktu orangtua cenderung untuk mencari tahu apa artinya tangisan tertentu. Meskipun demikian, semua bayi terdengar berbeda, seperti orang dewasa. Aplikasi baru mengakui variabilitas menangis untuk bayi menangis. Alih-alih nada atau pitch, dari teknologi tersebut bergantung pada pola semacam di teriakan. Perusahaan memperingatkan, bagaimanapun, teknologi itu dimaksudkan untuk membantu orang tua dan pengasuh bayi memahami apa yang ingin dikomunikasikan si bayi. Namun, terlepas dari bagaimana orangtua berusaha untuk menafsirkan tangisan bayinya, jika bayi selalu menangis dan sulit ditenangkan (tidak akan berhenti terlepas dari intervensi, seperti memberikan makan, mengganti popok, menggendong bayi , dll) maka sangat penting untuk menghubungi atau pergi ke dokter sesegera mungkin karena itu dapat berarti ada sesuatu yang lebih serius terjadi.(AYB/liputan6)
altBogor: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menciptakan teknologi Beyonic yang berbasis mikroba untuk pembuatan pupuk organik. Peluncuran teknologi tersebut dilakukan Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata di Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/1). Prof Dr Endang Sukara, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, mengatakan teknologi ini merupakan salah satu solusi atas masalah menurunnya kualitas lahan akibat penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan. Pemanfaatan mikroba, yang merupakan salah satu kekayaan hayati, menjadi alternatif yang terus dikembangkan menjadi suatu produk untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi pemakaian pupuk buatan. Endang juga menjelaskan, pemerintah pada 2010 telah menganggarkan subsidi Rp11,86 triliun untuk memproduksi 11,76 juta ton pupuk organik. Namun subsidi tersebut hanya dimanfaatkan produsen besar sehingga petani masih tetap tidak mandiri terkait penyediaan pupuk organik tersebut. LIPI mengharapkan dengan teknologi ini para petani bisa mengolah sendiri pupuk organik sehingga mereka menjadi mandiri. Sedangkan mikroba yang digunakan adalah mikroba lokal yang dijamin keamanan serta kemurniannya dan dipelihara oleh Biotechnology Culture Collection yang telah terdaftar di World Federation for Culture Collection (WFCC ). Sekarang ini, lanjut Endang, banyak mikroba yang didatangkan dari luar negeri yang belum tentu handal. Beberapa seri produk pupuk organik yang telah dipasarkan saat ini diantaranya adalah, Bioposka, Kompenit, Biomat, Biorhizin, Kedelai Plus, Biovam dan Katalek. Seri lain yang akan segera menyusul adalah pupuk organik untuk tambak, kawasan tambang yang tercemar limbah logam berat, kawasan tercemar minyak, serta energi alternatif. Menristek Suharna Surapranata mengatakan, hasil inovasi teknologi hendaknya bisa langsung dimanfaatkan oleh departemen terkait, sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada industri asing. Hasil penelitian yang sangat bermanfaat kalau tidak bisa disinergikan dengan departemen terkait akan mubazir, katanya. Padahal, lanjut Suharna, pembangunan di Indonesia sangat membutuhkan produk-produk teknologi tinggi.( YUS/Liputan6.com )

Online

Kami memiliki 11 Tamu online

Total Pengunjung

Jumlah Kunjungan Konten : 55441

Polling

Apakah SBY-Budiono sebaiknya mundur?

Login Form